Contoh Surat Cerai Baik dan Benar 2017

Contoh Surat Cerai yang Baik dan Benar

Contoh Surat Cerai yang Baik dan Benar – Memiliki keluarga yang utuh dan bahagia menjadi dambaan setiap manusia. Seberat apapun masalah yang dimiliki, keluarga akan menjadi peredam masalah. Sebuah keluarga tercipta dari rasa sayang dan cinta yang sangat besar, terutama bagi suami, dia harus dapat mengarahkan keluarganya, membimbing dan menjaga keluarganya dari apapun yang mengancam keharmonisan dan kesejahteraan keluarganya. Begitupun dengan istri, dia juga harus dapat menjadi sosok pengayom bagi keluarga agar suasana kasih sayang dan keharmonisan dapat selalu terjaga.Contoh Surat Cerai yang Baik dan Benar

Namun tidak semua keluarga dapat menjadi harmonis sesuai keinginan, terkadang ada masalah yang muncul baik dari dalam ataupun luar keluarga itu sendiri. Apabila itu terjadi maka kita harus menyadari bahwa memang tidak ada satupun keluarha yang dijalani tanpa memiliki masalah sehingga kita harus selalu mengupayakan agar keluarga kita tidak sampai berpisah. Namun apabila kita telah mencoba memperbaiki keadaan keluarga dan memang tidak dapat diperbaiki lagi maka jalan yang terbaik memang berpisah melalui jalur perceraian. Bukan hanya suami, seorang istripun bisa menggugat cerai suaminya apabila memang sang istri sudah tidak dapat lagi hidup bersama. Mungkin ada alasan yang sangat kuat dibalik gugatan cerai sang istri terhadap suaminya. Berikut ada contoh format penulisan surat gugatan cerai bagi istri yang ingin berpisah dengan suaminya.

Contoh Surat Cerai yang Baik dan Benar

Contoh Surat Gugatan Cerai

Yogyakarta, 1 Maret 2017

Kepada Yth.
Bapak Ketua Pengadilan Agama Yogyakarta
Jl. Ipda Tut Harsono No. 53

Perihal: GUGATAN CERAI

Dengan hormat,

Yang bertanda tangan dibawah ini sebagai penggugat:
Nama : Evelyn Larasati
Tempat dan Tanggal Lahir : Brebes, 29 Januari 1988
Alamat : Jl. Gondosuli No. 13 RT.1 RW.1 Laweyan
Pekerjaan : Karyawan Swasta
Status : PENGGUGAT

Dengat tertulisnya surat ini, saya ingin Mengajukan Gugatan Cerai terhadap Suami saya:
Nama : Benedic Ruis Komani
Tempat dan Tanggal Lahir : Surabaya, 31 Juli 1985
Alamat : Jl. Gondosuli No. 13 RT.1 RW.1 Laweyan
Pekerjaan : Karyawan Swasta
Status : TERGUGAT

Adapun hal-hal yang ada dan mendasari gugatan cerai ini adalah sebagai berikut:
1. Bahwa pada tanggal 13 Muharram 1409 H ( 20 Agustus 2010), telah dilangsungkan perkawinan yang sah berdasarkan agama islam, yang kemudian dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah bertempat di Kantor Urusan Agama Kecamatan Modo sesuai dari Kutipan Akta Nikah no. 303/11/II/2010. Sehingga perkawinan tersebut adalah SAH menurut hukum agama dan Negara sesuai Undang-Undang No.1 Tahun 1974 serta Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1975;

2. Bahwa PENGGUGAT dan TERGUGAT selama ini bertempat di rumah TERGUGAT yang merupakan tempat kediaman bersama dan beralamat di Jl. Gondosuli No. 13 RT.1 RW.1 Laweyan, hal ini dapat dibuktian dengan adanya KTP atas nama PENGGUGAT maupun KTP atas nama TERGUGAT serta diterbitkannya kartu keluarga tanggal 20 Oktober 2010 dari Kantor Kecamatan Laweyan, Yogyakarta atas nama Kepala Keluarga : Benedic Ruis Komani (TERGUGAT);

3. Bahwa pada awalnya keluarga dan kehidupan rumah tangga PENGGUGAT dan TERGUGAT berjalan dengan harmonis;

4. Bahwa sejak bulan Februari 2016 hingga sekarang TERGUGAT tidak lagi menjadi Kepala Keluarga yang baik dengan tidak menjauhkan keluarga dari kasus KDRT dengan TERGUGAT sebagai Terlapor Kasus KDRT;

5. Bahwa namun demikian, TERGUGAT tidak ada usaha memperbaiki sifat terhadap keluarga, sehingga keharmonisan kehidupan rumah tangga PENGGUGAT dan TERGUGAT mulai tidak kondusif lagi, selalu timbul pertengkaran karena hal-hal kecil seperti perbedaan pendapat;

6. Bahwa PENGGUGAT dan TERGUGAT telah berupaya sekuat tenaga untuk memperbaiki keadaan dan keharmonisan kehidupan keluarga dengan melakukan konsultasi kepada teman, orang dekat dan keluarga, namun upaya tersebut tidak dapat menyelesaikan masalah yang terjadi;

7. Bahwa upaya konsultasi atau nasehat yang telah PENGGUGAT uraikan diatas, semata-mata PENGGUGAT lakukan untuk dapat mempertahankan rumah tangga antara PENGGUGAT dan TERGUGAT yang telah berlangsung selama kurang lebih 7 tahun;

8. Bahwa rumah tangga antara PENGGUGAT dan TERGUGAT sudah tidak mungkin dapat berjalan dengan harmonis lagi karena kehidupan rumah tangga selalu dipenuhi kesalahpahaman dan kemarahan, puncaknya sejak bulan Januari 2017 PENGGUGAT pergi ke rumah orang tua dan meninggalkan rumah kediaman bersama yang ditinggali bersama TERGUGAT;

9. Bahwa tidak ada lagi yang dapat dipertahankan oleh PENGGUGAT dan TERGUGAT, maka pilihan yang paling baik untuk dijalankan adalah memutuskan atau mengahiri perkawinan lewat gugatan cerai.

10. Bahwa keputusan untuk mengahiri perkawinan PENGGUGAT telah dibicarakan dengan TERGUGAT dan telah diketahui oleh keluarga besar masing-masing;

11. Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 1 Undang-undang No. 1 tahun 1974, tentang Pokok-Pokok Perkawinan, dinyatakan sebagai berikut bahwa;

“Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Ketentuan Pasal 1 Undang-undang No.1 tahun 1974 sudah tidak sah dan tidak ditemui didalam kehidupan keluarga PENGGUGAT dan TERGUGAT, sehingga tidak mendukung lagi dilanjutkannya status perkawinan untuk dipertahankan;

12. Selain itu Pasal 19 huruf f Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975, yang intinya menyebutkan bahwa:
“Perceraian dapat terjadi karena antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga”

13. Bahwa dasar ketentuan pasal 22 Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1975, menyatakan bahwa:
“Perceraian dapat terjadi karena antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga”

Bahwa domisili TERGUGAT adalah di Jl. Gondosuli No. 13 RT.1 RW.1 Laweyan. Dengan demikian secara hukum Pengadilan Agama yang berwenang untuk mengadili perkara ini adalah Pengadilan Agama Yogyakarta yang mempunyai yuridiksi meliputi tempat kediaman TERGUGAT.
Pasal 22 ayat (2)

“Gugatan tersebut dalam ayat (1) dapat diterima apabila telah cukup jelas bagi Pengadilan mengenai sebab-sebab perselisihan dan pertengkaran itu dan setelah mendengar pihak keluarga serta orang-orang yang dekat dengan suami-isteri itu.”

Bahwa sebagaimana yang telah PENGGUGAT uraikan, maka telah cukup alasan bahwa kehidupan keluarga antara PENGGUGAT dan TERGUGAT memang tidak dapat dilanjutkan lagi.

Bahwa berdasarkan permasalahan yang terjadi, maka PENGGUGAT memohon kepada Bapak Ketua Pengadilan Negeri Yogyakarta, kiranya berkenan memeriksa Surat Gugatan Cerai PENGGUGAT dan selanjutnya memberi Putusan sebagai berikut:

1. Mengabulkan gugatan PENGGUGAT seluruhnya. ;

2. Menyatakan perkawinan yang dilangsungkan antara PENGGUGAT dengan TERGUGAT, pada tanggal tanggal 13 Muharram 1409 H (20 Agustus 2010), sebagaimana ternyata dari Kutipan Akta Perkawinan No. 303/11/II/2010 tanggal 17 November 2016 yang dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan Laweyan adalah PUTUS karena perceraian dengan segala akibat hukumnya.;

3. Menghukum TERGUGAT untuk membayar biaya yang timbul dari munculnya perkara ini..

Atau

Apabila Bapak Ketua Pengadilan Agama Yogyakarta berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya

Hormat saya,

Evelyn Larasati

Baca Juga:

Contoh Surat Cerai yang Baik dan Benar Demikian ulasan tentang Contoh Surat Gugatan Cerai yang dapat anda jadikan pedoman untuk menulis surat guugatan cerai anda. Perlu anda ingat bahwa perceraian akan memberikan dampak buruk, untuk itulah berusaha menjadi orag yang lebih baik sangat diperlukan oleh masing-masing pribadi untuk dapat hidup bersama. Terimakasih atas kunjungan anda di Dewa-surat.com.

Pencarian Paling Populer :

/* */